Senin, 23 Desember 2013

E-learning : Santai Namun Efektif

Sumber Gambar : disini
Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan kesejahteraan umat manusia : Pasal 31 Ayat 5


Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu cita-cita dari perjuangan kemerdekaan bangsa indonesia. Cita-cita ini ditindaklanjuti dengan menempatkan pendidikan sebagai sektor pembangunan yang sangat penting dan selalu memperoleh prioritas dalam program-program pembangunan yang dirancang pemerintah. 
        Dua tahun berlalu beranjak dari bangku SMA, disinilah kehidupan saya yang sebenarnya bermula. Menjajaki pendidikan yang lebih tinggi demi meraih ilmu secara spesifik dan mendalam dengan tujuan akhir mendapatkan sebuah pekerjaan yang mapan. Ya, saya sekarang sedang menempuh ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri. Banyak hal yang saya alami mengenai proses pembelajarannya bila dibandingkan dengan SMA dahulu. Mulai dari sistem SKS, dan hal-hal detil lainnya hingga pemanfaatan E-learning pun gencar di gadangkan. E-learning merupakan media pembelajaran yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet dan intranet atau media komunikasi lainnya.
     Di era modern seperti sekarang, metode pembelajaran dengan E-learning memang sudah booming. Terbukti dengan usaha pemerintah dengan membuat sebuah website berbasis edukasi yaitu  Rumah Belajar. Dimana penggunanya dapat mengakses berbagai fasilitas yang disediakan, salah satu contohnya seperti buku pembelajaran berkualitas yang mana hak ciptanya telah dibeli oleh pemerintah sehingga bisa diperbanyak. Akan tetapi Indonesia memang bisa dikatakan “sedikit” tertinggal untuk menerapkan metode pembelajaran E-learning bila dibandingkan negara tetangga seperti Singapura. Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang sangat mumpuni di bidang IT terutama di kawasan ASEAN. E-learning di Singapura sudah dalam skala yang besar dimana setiap instansi pendidikan akan mengucurkan sebagian anggaran untuk pembuatan proyek E-learning yang berkualitas, menarik, dan user friendly.
Sumber Gambar : disini

         Lalu Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia sebenarnya sudah menerapkan E-learning namun belum terlalu banyak instansi pendidikan yang menggunakannya. Mungkin untuk tingkat Universitas E-learning sudah menerapkan sistem ini dan beberapa sekolah swasta. Namun bagaimana dengan sekolah lainnya yang mungkin letaknya agak jauh dari pusat kota ? Disinilah peranan pemerintah. Sebelum memulai E-learning ada baiknya baik pemerintah pusat maupun daerah untuk memperbaiki infrastruktur yang ada di sekolah tersebut. Bagaimana bisa E-learning di terapkan bila listrik saja belum masuk beberapa daerah dan desa di Indonesia. Mimpi jauh untuk menikmati koneksi internet apalagi mendapatkan edukasi pendidikan mengenai dunia komputerisasi. Belum lagi tenaga pengajar yang mumpuni sangat sedikit tersedia. Hendaknya hal-hal tersebut perlu diperhatikan terlebih dahulu.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat membaca di salah satu portal berita di Indonesia dan
Sumber Gambar : disini
cukup berbangga karena salah satu produk penyedia layanan jasa komunikasi terbaik di negeri ini, XL, mengadakan program dengan tema “XL Future Leader” dimana telah terpilih 135 mahasiswa untuk dapat mengikuti program ini. Dalam 5 tahun digelarnya program XL Future Leaders, XL ingin berpartisipasi mencetak setidaknya 600 calon pemimpin muda Indonesia yang dharapkan kedepannya akan bisa membawa Indonesia ke tingkat persaingan global. XL juga telah meluncurkan XL Future Leaders e-Curriculum agar semakin banyak mahasiswa yang bisa mengikuti program bagus ini.



Apa manfaat E-learning ?

          Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mungkin sudah didapat gambaran singkat mengenai E-learning. Masih teringat ketika saya duduk di bangku SMA. Semua pembelajaran dilakukan secara manual. Walaupun memang pada dasarnya kurikulum yang ditetapkan adanya pelajaran mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi dimana saat itu kami mengenal Internet serta pengoperasian komputer secara umum, namun ada baiknya jika E-learning diterapkan sedari dini. 

1. Hemat Kertas
Sumber Gambar : disini

Secara tak sadar E-learning turut berperan dalam mencegah pemanasan global yang sedang marak saat ini. Maksudnya ? Sudah menjadi rahasia umum bahwa bahan baku pembuatan kertas adalah kayu. Kayu didapat dan ditebang dari pohon. Berdasarkan informasi yang saya dapat bahwa jika kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan 31.780 liter air, DAHSYAT ! Pekerjaan Rumah atau yang dikenal PR mungkin sudah menjadi “makanan” sehari-hari bagi siswa. Nah disinilah peran E-learning dimana siswa tidak perlu mengumpulkan tugas dengan cara menulis langsung di kertas atau dengan mengetiknya di komputer lalu mencetaknya kembali, walaupun pada kenyataannya memang tidak semua tugas dikerjakan secara komputerisasi. Siswa cukup mengumpulkan tugas ke E-learning dengan cara meng-upload-nya ke E-learning.

2. Minimalisir Contek mencontek
Sumber Gambar : disini

Meminimalisir bukan artinya menghilangkan sama sekali suatu tindakan. E-learning setidaknya mampu mengurangi aktifitas contek mencotek pekerjaan rumah dengan siswa lainnya. Masih teringat ketika SMA salah satu tradisi yang melekat adalah membuat pekerjaan rumah di sekolah sebelum kegiatan belejar dimulai. Beberapa siswa yang malas mengerjakan pekerjaan rumah lantas mengerjakan pekerjaan rumah disekolah. Peran E-learning yaitu dimana guru dapat memberikan batas tenggat atau deadline pengumpulan tugas. Sehingga bila siswa belum meng-upload tugas maka akan dianggap siswa yang bersangkutan tidak mengerjakan tugas dan tidak mendapatkan nilai dari tugas tersebut.


3. Efisiensi Waktu
Sumber Gambar : disini

Memang tak bisa dipungkiri E-learning sudah membantu banyak siswa dan guru yang tidak bisa datang ke lokasi pembelajaran karena suatu hal yang mengharuskan mereka tidak bisa datang. Misalnya saja ketika seorang guru tidak dapat hadir untuk mengajar, guru dapat memberikan informasi di E-learning mengnai info ketidakhadirannya keesokan harinya kemudian memberikan tugas pengganti untuk dikumpulkan sebelum tanggal tenggat. Selain itu guru juga dapat memberikan informasi kepada siswa untuk mempelajari bab atau materi yang seharusnya diajarkan agar siswa dapat memanfaatkan waktunya dikelas. Sehingga aktifitas nongkrong di kantin atau di WC, tidur di kelas, ngobrol, dan aktivitas mubazir lainnya dapar diminimalisir.
Untuk siswa yang tidak bisa datang ke sekolah dikarenakan sakit misalnya, dengan E-learning siswa dapat mengetahui materi apa yang sedang diajarkan saat itu. Sehingga siswa tidak terlalu jauh merasa tertinggal materi dan dapat belajar sendiri di rumah.

4. Hilangnya Suasana Menegangkan
Sumber Gambar : disini

Mungkin diakhir kegiatan belajar mengajar berlangsung, seorang guru akan bertanya “ Ada yang ingin ditanyakan ?”. Disinilah seorang guru bingung dengan keadaan psikis seorang guru. Karena biasanya hanya siswa yang pintar yang mau bertanya karena mereka mengerti permasalahan yang terjadi. Nah bagaimana yang tidak bertanya ? apakah mereka dianggap sudah mengerti secara penuh tentang materi yang diajarkan ? Misalnya, Sebagian siswa biasanya takut untuk bertanya karena faktor guru yang sedikit “killer” atau malu bertanya jika pertanyaannya kurang berbobot. Kembali E-learning memberikan solusi. Dengan E-learning, komunikasi antar siswa dan guru dapat berjalan lancer karena tatap muka tidak terjadi, dan secara tidak langsung suasana perdebatan akan terjadi antar siswa dan guru tentunya dalam hal positif. Dari suasana yang semula menegangkan menjadi diskusi yang menyenangkan.



Lalu, bagaimana untuk memulai semuanya ?

      E-learning adalah proses learning (pembelajaran) dengan memanfaatkan Information and Communication Technology (ICT) sebagai tools yang dapat tersedia kapanpun dan dimanapun dibutuhkan sehingga dapat mengatasi kendala ruang dan waktu. Nah untuk memulai semua ini setidaknya ada tiga komponen yang harus dipersiapkan E-learning :

1. Infrastruktur E-learning
Sumber Gambar : disini

Setidaknya Personal Komputer (PC) dan koneksi internet mutlak dimiliki oleh siswa maupun guru. Untungnya kurikulum yang diterapkan pemerintah sekarang sudah memasukan pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sehingga siswa mampu mengoperasikan komputer walaupun secara basic serta mengenal penggunaan internet.
Untuk siswa mungkin tidak terlalu menjadi kendala karena kebanyakan siswa lebih cepat mengenal dan mengerti dunia informasi dan internet. Namun kendala terjadi pada guru-guru kita. Dikarenakan kebanyakan guru-guru kurang aware untuk update perkembangan yang terjadi sekarang. Sehingga boro-boro menggunakan komputer dan mengakses internet. Penggunaan handphone saja terkadang masih kaku untuk memanfaatkan teknologi didalamnya padahal handphone yang digunakan tergolong kelas premium. Untuk itu peran pemerintah mungkin diperlukan untuk mengadakan sosialisasi kepada guru-guru kita misalnya dengan mengadakan pelatihan penggunaan komputer dan internet.

2. Sistem dan Aplikasi E-learning

Aplikasi atau sistem yang digunakan untuk menerapkan E-learning diperlukan untuk mem-virtualkan proses belajar mengajar yang konvensional. Sistem perangkat lunak atau sistem tersebut sering disebut Learning Management System (LMS). LMS banyak yang bersifat open source sehingga bisa dimanfaatkan dengan mudah dan murah untuk dikembangkan baik di sekolah, Universitas, atau lembaga pendidikan lainnya, Contoh LMS open source seperti Moodle, Claroline,Dokeos, Docebo, ATutor,  Chamilo, dan OLAT.
Mungkin untuk penggunaan LMS ini butuh banyak orang yang terlibat dan pemahaman ilmu yang lebih spesifik. Misalnya saja dibutuhkan orang yang memiliki pemahaman dalam pembuatan database SQL. Untuk itu diperlukan peran aktif sekolah dalam pengembangan LMS ini karena akan terdengar mustahil jika guru yang mengembangkannya walaupun hal itu bisa saja terjadi. Misalnya di Universitas saya menggunakan LMS Moodle sebagai LMS berlisensi open source yang mudah untuk dikembangkan.
Elearning Universitas Sriwijaya dengan menggunakan LMS Moodle dengan Login akun saya sendiri
Pengelompokan mata kuliah
 
Pengumuman tugas serta batas tenggatnya dan tidak bisa diupload bila lewat waktu tenggatnya

Ruang chat untuk diskusi antar siswa/mahasiswa dengan guru/dosen
Untuk tahap awal, bila proyek pengembangan E-learning membutuhkan waktu yang cukup lama, seorang guru dapat memanfaatkan jejaring social seperti Facebook dengan cara membuat grup mata pelajaran tertentu, karena facebook menyediakan fasilitas chat untuk komunikasi langsung dan fasilitas upload file. Selain Facebook, ada juga Edmodo dimana situs jejaring sosial ini berorientasi edukasi yang memang mengkhususkan untuk saran tempat berbagi data, event, jadwal dan lain sebagainya tentunya untuk para guru dan murid. Tentunya ini dapat dijadikan langkah awal dan juga untuk penggunaannya tidaklah sulit.
Penampakan Edmodo dengan Login akun saya sendiri
  
3. Konten E-learning

Konten atau materi yang diberikan oleh guru dapat berupa dokumen dan literature penunjang lainnya. Namun peranan multimedia juga bisa diberlakukan untuk menunjang kerteratikan siswa. Misalnya dengan membuat animasi berupa flash atau stickman yang memberikan pandangan yang berbeda kepada siswa untuk memahami sebuah materi dengan berbagai pendekatan dalam kehidupan sehari-hari. Membuat sebuah video juga bisa dilakukan, baik dengan merekam diri sendiri dalam menjelaskan sebuah materi atau dengan menggunakan software yang banyak tersedia di internet baik yang bersifat gratis maupun berbayar untuk merekam aktivitas mengajar langsung menggunakan komputer. Tentunnya ini akan sangat membantu bagi siswa yang kurang memahami pelajaran dengan hanya membaca saja namun dengan mendengar dan melihat langsung dapat dipahami dengan lebih mudah.
Tampak video yang telah di-upload sedang diputar



Apakah E-learning tidak mempunyai sisi negatif ?
        
 Tak ada gading yang tak retak, semua yang ada didunia ini tidak ada yang sempurna, artinya semuanya mempunyai sisi positif dan negatif tentunya dengan kadar yang berbeda-beda. Begitu juga dengan E-learning. Dibalik manfaat E-learning, ada juga sisi negatifnya. Karena memang pada dasarnya E-learning hanyalah komplemen bukan pengganti metode pembelajaran konvensional yang sudah diterapkan selama ini.

1.  Mahal
Sumber Gambar : disini
  
 Kenapa saya bilang mahal, memang pada umumnya E-learnng dapat menghemat waktu dan biaya operasional lainnya seperti kertas atau pun tinta untuk mencetak tugas. Namun saya mengatakan mahal dikarenakan untuk menikmati layanan E-learning seorang guru dan siswa harus mempunyai koneksi internet dan computer. Ini akan menjadi penghalang untuk sebagian siswa kurang mampu yang mungkin tidak memiliki koneksi internet dan computer. Alhasil jasa WarNet (Warung Internet) pun menjadi pilihan. Biaya perjam menyewa jasa layanan internet pun akan terbilang mahal untuk ukuran kantong siswa bila dilakukan secara terus menerus. Disini seorang guru harus dapat memberikan pandangan kepada siswa bahwa “sedikit” biaya ekstra dalam pembelajaran melalui E-learning seimbang dengan manfaat yang diberikan.

2. Tidak Selalu Online
 
Sumber Gambar : disini
Permasalahan selanjutnya adalah ketika siswa tidak mengetahui aktivitas apa saja yang terjadi di E-learning. Misalnya ketika seorang guru meng-upload tugas, maka mungkin siswa tidak online disaat itu dikarenakan ada kegiatan lain atau sedang tidak bisa mengakses internet karena suatu hal.
Beberapa solusi yang mungkin dapat dilakukan antara lain yaitu pertama , ketika pembelajaran secara konvensional (disekolah) berakhir, guru dapat memberi informasi bahwa jam sekian akan di-upload tugas ke E-learning berikut masa tenggatnya. Kedua, guru seharusnya memiliki paling tidak nomor kontak salah satu anggota kelas yang akan dijadikan perantara kepada teman-temannya untuk memberi kabar mengenai info tugas di E-learning bila suatu saat tidak sempat disampaikan di kelas kepada siswa. Namun guru meng-upload sejumlah literature, dokumen pembelajaran, maupun multimedia pembelajaran, hal ini saya rasa tidak perlu dilakukan.

3. Menimbulkan Ketidasiplinan Guru
Sumber Gambar : disini
 
Dikarenakan dari pengamatan saya selama ini, E-learning membuat beberapa guru malas untuk mengajar secara langsung karena telah menganggap E-learning sebagai pengganti metode pengajaran konvensional. Sehingga jumlah pertemuan antar guru dan siswa pun berkurang dan beranggapan engan memberikan bahan pengajaran dan tugas di E-learning dirasa sudah cukup. Lalu akibatnya ? siswa akan mengalami sedikit kesulitan dalam memahami pelajaran. Apalagi untuk mata pelajaran yang sifatnya eksak seperti Matematika, Fisika dan Kimia, penjelasan secara langsung mungkin hasilnya akan lebih baik diterima siswa jika diterangkan secara langsung dan E-learning menjadi alternatif media pembelajaran seperti animasi ataupun video penunjang pembelajaran. Sebagaimana yang kita ketahui kemampuan berpikir dan daya nalar tiap orang itu akan berbeda. Mungkin untuk sebagian siswa yang tergolong pintar mampu memahami pelajaran dengan hanya membaca, namun mungkin akan mengalami sedikit kesulitas bagi siswa yang tergolong biasa saja karena mereka lebih nyaman dan cepat memahami pelajaran bila diajarkan secara langsung oleh guru. Walaupun memang pada kenyataannya E-learning menyediakan ruang chat untuk berdiskusi.

Percayalah, dibalik kekurangan dari E-learning terdapat sejuta manfaat yang menutupi kekurangan itu dan tentunya akan memberikan dampak positif bagi pelaku pendidikan. Namun perlu diperhatikan bahwa E-learning bukanlah pengganti dari kegiatan belajar mengajar secara konvensional, namun sebagai media penunjang pembelajaran. Karena tatap muka langsung diperlukan bagi guru untuk mengetahui karakteristik masing-masing siswa, dan hal-hal teknis maupun non-teknis lainnya. Seyogyanya, E-learning memberikan harapan baru sebagai alternatif solusi atas sebagian besar permasalahan yang terjadi di ruang lingkup instansi pendidikan khususnya di Indonesia, dengan fungsi yang telah disesuaikan baik sebagai suplemen (tambahan) maupun komplemen (pelengkap) atas kegiatan pembelajaran kelas yang selama ini digunakan.





2 komentar:

  1. Tulisan bagus, membahas dengan sudut pandang unik.
    Mari kembangkan E-Learning

    http://www.tohib.web.id/2013/12/guru-ngeblog-itu-seksi.html

    BalasHapus
  2. Makasih bro... semoga bisa diterapkan disemua kalangan instansi pendidikan :)

    BalasHapus

Senin, 23 Desember 2013

E-learning : Santai Namun Efektif

Sumber Gambar : disini
Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan kesejahteraan umat manusia : Pasal 31 Ayat 5


Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu cita-cita dari perjuangan kemerdekaan bangsa indonesia. Cita-cita ini ditindaklanjuti dengan menempatkan pendidikan sebagai sektor pembangunan yang sangat penting dan selalu memperoleh prioritas dalam program-program pembangunan yang dirancang pemerintah. 
        Dua tahun berlalu beranjak dari bangku SMA, disinilah kehidupan saya yang sebenarnya bermula. Menjajaki pendidikan yang lebih tinggi demi meraih ilmu secara spesifik dan mendalam dengan tujuan akhir mendapatkan sebuah pekerjaan yang mapan. Ya, saya sekarang sedang menempuh ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri. Banyak hal yang saya alami mengenai proses pembelajarannya bila dibandingkan dengan SMA dahulu. Mulai dari sistem SKS, dan hal-hal detil lainnya hingga pemanfaatan E-learning pun gencar di gadangkan. E-learning merupakan media pembelajaran yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet dan intranet atau media komunikasi lainnya.
     Di era modern seperti sekarang, metode pembelajaran dengan E-learning memang sudah booming. Terbukti dengan usaha pemerintah dengan membuat sebuah website berbasis edukasi yaitu  Rumah Belajar. Dimana penggunanya dapat mengakses berbagai fasilitas yang disediakan, salah satu contohnya seperti buku pembelajaran berkualitas yang mana hak ciptanya telah dibeli oleh pemerintah sehingga bisa diperbanyak. Akan tetapi Indonesia memang bisa dikatakan “sedikit” tertinggal untuk menerapkan metode pembelajaran E-learning bila dibandingkan negara tetangga seperti Singapura. Singapura dikenal sebagai salah satu negara yang sangat mumpuni di bidang IT terutama di kawasan ASEAN. E-learning di Singapura sudah dalam skala yang besar dimana setiap instansi pendidikan akan mengucurkan sebagian anggaran untuk pembuatan proyek E-learning yang berkualitas, menarik, dan user friendly.
Sumber Gambar : disini

         Lalu Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia sebenarnya sudah menerapkan E-learning namun belum terlalu banyak instansi pendidikan yang menggunakannya. Mungkin untuk tingkat Universitas E-learning sudah menerapkan sistem ini dan beberapa sekolah swasta. Namun bagaimana dengan sekolah lainnya yang mungkin letaknya agak jauh dari pusat kota ? Disinilah peranan pemerintah. Sebelum memulai E-learning ada baiknya baik pemerintah pusat maupun daerah untuk memperbaiki infrastruktur yang ada di sekolah tersebut. Bagaimana bisa E-learning di terapkan bila listrik saja belum masuk beberapa daerah dan desa di Indonesia. Mimpi jauh untuk menikmati koneksi internet apalagi mendapatkan edukasi pendidikan mengenai dunia komputerisasi. Belum lagi tenaga pengajar yang mumpuni sangat sedikit tersedia. Hendaknya hal-hal tersebut perlu diperhatikan terlebih dahulu.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat membaca di salah satu portal berita di Indonesia dan
Sumber Gambar : disini
cukup berbangga karena salah satu produk penyedia layanan jasa komunikasi terbaik di negeri ini, XL, mengadakan program dengan tema “XL Future Leader” dimana telah terpilih 135 mahasiswa untuk dapat mengikuti program ini. Dalam 5 tahun digelarnya program XL Future Leaders, XL ingin berpartisipasi mencetak setidaknya 600 calon pemimpin muda Indonesia yang dharapkan kedepannya akan bisa membawa Indonesia ke tingkat persaingan global. XL juga telah meluncurkan XL Future Leaders e-Curriculum agar semakin banyak mahasiswa yang bisa mengikuti program bagus ini.



Apa manfaat E-learning ?

          Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mungkin sudah didapat gambaran singkat mengenai E-learning. Masih teringat ketika saya duduk di bangku SMA. Semua pembelajaran dilakukan secara manual. Walaupun memang pada dasarnya kurikulum yang ditetapkan adanya pelajaran mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi dimana saat itu kami mengenal Internet serta pengoperasian komputer secara umum, namun ada baiknya jika E-learning diterapkan sedari dini. 

1. Hemat Kertas
Sumber Gambar : disini

Secara tak sadar E-learning turut berperan dalam mencegah pemanasan global yang sedang marak saat ini. Maksudnya ? Sudah menjadi rahasia umum bahwa bahan baku pembuatan kertas adalah kayu. Kayu didapat dan ditebang dari pohon. Berdasarkan informasi yang saya dapat bahwa jika kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan 31.780 liter air, DAHSYAT ! Pekerjaan Rumah atau yang dikenal PR mungkin sudah menjadi “makanan” sehari-hari bagi siswa. Nah disinilah peran E-learning dimana siswa tidak perlu mengumpulkan tugas dengan cara menulis langsung di kertas atau dengan mengetiknya di komputer lalu mencetaknya kembali, walaupun pada kenyataannya memang tidak semua tugas dikerjakan secara komputerisasi. Siswa cukup mengumpulkan tugas ke E-learning dengan cara meng-upload-nya ke E-learning.

2. Minimalisir Contek mencontek
Sumber Gambar : disini

Meminimalisir bukan artinya menghilangkan sama sekali suatu tindakan. E-learning setidaknya mampu mengurangi aktifitas contek mencotek pekerjaan rumah dengan siswa lainnya. Masih teringat ketika SMA salah satu tradisi yang melekat adalah membuat pekerjaan rumah di sekolah sebelum kegiatan belejar dimulai. Beberapa siswa yang malas mengerjakan pekerjaan rumah lantas mengerjakan pekerjaan rumah disekolah. Peran E-learning yaitu dimana guru dapat memberikan batas tenggat atau deadline pengumpulan tugas. Sehingga bila siswa belum meng-upload tugas maka akan dianggap siswa yang bersangkutan tidak mengerjakan tugas dan tidak mendapatkan nilai dari tugas tersebut.


3. Efisiensi Waktu
Sumber Gambar : disini

Memang tak bisa dipungkiri E-learning sudah membantu banyak siswa dan guru yang tidak bisa datang ke lokasi pembelajaran karena suatu hal yang mengharuskan mereka tidak bisa datang. Misalnya saja ketika seorang guru tidak dapat hadir untuk mengajar, guru dapat memberikan informasi di E-learning mengnai info ketidakhadirannya keesokan harinya kemudian memberikan tugas pengganti untuk dikumpulkan sebelum tanggal tenggat. Selain itu guru juga dapat memberikan informasi kepada siswa untuk mempelajari bab atau materi yang seharusnya diajarkan agar siswa dapat memanfaatkan waktunya dikelas. Sehingga aktifitas nongkrong di kantin atau di WC, tidur di kelas, ngobrol, dan aktivitas mubazir lainnya dapar diminimalisir.
Untuk siswa yang tidak bisa datang ke sekolah dikarenakan sakit misalnya, dengan E-learning siswa dapat mengetahui materi apa yang sedang diajarkan saat itu. Sehingga siswa tidak terlalu jauh merasa tertinggal materi dan dapat belajar sendiri di rumah.

4. Hilangnya Suasana Menegangkan
Sumber Gambar : disini

Mungkin diakhir kegiatan belajar mengajar berlangsung, seorang guru akan bertanya “ Ada yang ingin ditanyakan ?”. Disinilah seorang guru bingung dengan keadaan psikis seorang guru. Karena biasanya hanya siswa yang pintar yang mau bertanya karena mereka mengerti permasalahan yang terjadi. Nah bagaimana yang tidak bertanya ? apakah mereka dianggap sudah mengerti secara penuh tentang materi yang diajarkan ? Misalnya, Sebagian siswa biasanya takut untuk bertanya karena faktor guru yang sedikit “killer” atau malu bertanya jika pertanyaannya kurang berbobot. Kembali E-learning memberikan solusi. Dengan E-learning, komunikasi antar siswa dan guru dapat berjalan lancer karena tatap muka tidak terjadi, dan secara tidak langsung suasana perdebatan akan terjadi antar siswa dan guru tentunya dalam hal positif. Dari suasana yang semula menegangkan menjadi diskusi yang menyenangkan.



Lalu, bagaimana untuk memulai semuanya ?

      E-learning adalah proses learning (pembelajaran) dengan memanfaatkan Information and Communication Technology (ICT) sebagai tools yang dapat tersedia kapanpun dan dimanapun dibutuhkan sehingga dapat mengatasi kendala ruang dan waktu. Nah untuk memulai semua ini setidaknya ada tiga komponen yang harus dipersiapkan E-learning :

1. Infrastruktur E-learning
Sumber Gambar : disini

Setidaknya Personal Komputer (PC) dan koneksi internet mutlak dimiliki oleh siswa maupun guru. Untungnya kurikulum yang diterapkan pemerintah sekarang sudah memasukan pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sehingga siswa mampu mengoperasikan komputer walaupun secara basic serta mengenal penggunaan internet.
Untuk siswa mungkin tidak terlalu menjadi kendala karena kebanyakan siswa lebih cepat mengenal dan mengerti dunia informasi dan internet. Namun kendala terjadi pada guru-guru kita. Dikarenakan kebanyakan guru-guru kurang aware untuk update perkembangan yang terjadi sekarang. Sehingga boro-boro menggunakan komputer dan mengakses internet. Penggunaan handphone saja terkadang masih kaku untuk memanfaatkan teknologi didalamnya padahal handphone yang digunakan tergolong kelas premium. Untuk itu peran pemerintah mungkin diperlukan untuk mengadakan sosialisasi kepada guru-guru kita misalnya dengan mengadakan pelatihan penggunaan komputer dan internet.

2. Sistem dan Aplikasi E-learning

Aplikasi atau sistem yang digunakan untuk menerapkan E-learning diperlukan untuk mem-virtualkan proses belajar mengajar yang konvensional. Sistem perangkat lunak atau sistem tersebut sering disebut Learning Management System (LMS). LMS banyak yang bersifat open source sehingga bisa dimanfaatkan dengan mudah dan murah untuk dikembangkan baik di sekolah, Universitas, atau lembaga pendidikan lainnya, Contoh LMS open source seperti Moodle, Claroline,Dokeos, Docebo, ATutor,  Chamilo, dan OLAT.
Mungkin untuk penggunaan LMS ini butuh banyak orang yang terlibat dan pemahaman ilmu yang lebih spesifik. Misalnya saja dibutuhkan orang yang memiliki pemahaman dalam pembuatan database SQL. Untuk itu diperlukan peran aktif sekolah dalam pengembangan LMS ini karena akan terdengar mustahil jika guru yang mengembangkannya walaupun hal itu bisa saja terjadi. Misalnya di Universitas saya menggunakan LMS Moodle sebagai LMS berlisensi open source yang mudah untuk dikembangkan.
Elearning Universitas Sriwijaya dengan menggunakan LMS Moodle dengan Login akun saya sendiri
Pengelompokan mata kuliah
 
Pengumuman tugas serta batas tenggatnya dan tidak bisa diupload bila lewat waktu tenggatnya

Ruang chat untuk diskusi antar siswa/mahasiswa dengan guru/dosen
Untuk tahap awal, bila proyek pengembangan E-learning membutuhkan waktu yang cukup lama, seorang guru dapat memanfaatkan jejaring social seperti Facebook dengan cara membuat grup mata pelajaran tertentu, karena facebook menyediakan fasilitas chat untuk komunikasi langsung dan fasilitas upload file. Selain Facebook, ada juga Edmodo dimana situs jejaring sosial ini berorientasi edukasi yang memang mengkhususkan untuk saran tempat berbagi data, event, jadwal dan lain sebagainya tentunya untuk para guru dan murid. Tentunya ini dapat dijadikan langkah awal dan juga untuk penggunaannya tidaklah sulit.
Penampakan Edmodo dengan Login akun saya sendiri
  
3. Konten E-learning

Konten atau materi yang diberikan oleh guru dapat berupa dokumen dan literature penunjang lainnya. Namun peranan multimedia juga bisa diberlakukan untuk menunjang kerteratikan siswa. Misalnya dengan membuat animasi berupa flash atau stickman yang memberikan pandangan yang berbeda kepada siswa untuk memahami sebuah materi dengan berbagai pendekatan dalam kehidupan sehari-hari. Membuat sebuah video juga bisa dilakukan, baik dengan merekam diri sendiri dalam menjelaskan sebuah materi atau dengan menggunakan software yang banyak tersedia di internet baik yang bersifat gratis maupun berbayar untuk merekam aktivitas mengajar langsung menggunakan komputer. Tentunnya ini akan sangat membantu bagi siswa yang kurang memahami pelajaran dengan hanya membaca saja namun dengan mendengar dan melihat langsung dapat dipahami dengan lebih mudah.
Tampak video yang telah di-upload sedang diputar



Apakah E-learning tidak mempunyai sisi negatif ?
        
 Tak ada gading yang tak retak, semua yang ada didunia ini tidak ada yang sempurna, artinya semuanya mempunyai sisi positif dan negatif tentunya dengan kadar yang berbeda-beda. Begitu juga dengan E-learning. Dibalik manfaat E-learning, ada juga sisi negatifnya. Karena memang pada dasarnya E-learning hanyalah komplemen bukan pengganti metode pembelajaran konvensional yang sudah diterapkan selama ini.

1.  Mahal
Sumber Gambar : disini
  
 Kenapa saya bilang mahal, memang pada umumnya E-learnng dapat menghemat waktu dan biaya operasional lainnya seperti kertas atau pun tinta untuk mencetak tugas. Namun saya mengatakan mahal dikarenakan untuk menikmati layanan E-learning seorang guru dan siswa harus mempunyai koneksi internet dan computer. Ini akan menjadi penghalang untuk sebagian siswa kurang mampu yang mungkin tidak memiliki koneksi internet dan computer. Alhasil jasa WarNet (Warung Internet) pun menjadi pilihan. Biaya perjam menyewa jasa layanan internet pun akan terbilang mahal untuk ukuran kantong siswa bila dilakukan secara terus menerus. Disini seorang guru harus dapat memberikan pandangan kepada siswa bahwa “sedikit” biaya ekstra dalam pembelajaran melalui E-learning seimbang dengan manfaat yang diberikan.

2. Tidak Selalu Online
 
Sumber Gambar : disini
Permasalahan selanjutnya adalah ketika siswa tidak mengetahui aktivitas apa saja yang terjadi di E-learning. Misalnya ketika seorang guru meng-upload tugas, maka mungkin siswa tidak online disaat itu dikarenakan ada kegiatan lain atau sedang tidak bisa mengakses internet karena suatu hal.
Beberapa solusi yang mungkin dapat dilakukan antara lain yaitu pertama , ketika pembelajaran secara konvensional (disekolah) berakhir, guru dapat memberi informasi bahwa jam sekian akan di-upload tugas ke E-learning berikut masa tenggatnya. Kedua, guru seharusnya memiliki paling tidak nomor kontak salah satu anggota kelas yang akan dijadikan perantara kepada teman-temannya untuk memberi kabar mengenai info tugas di E-learning bila suatu saat tidak sempat disampaikan di kelas kepada siswa. Namun guru meng-upload sejumlah literature, dokumen pembelajaran, maupun multimedia pembelajaran, hal ini saya rasa tidak perlu dilakukan.

3. Menimbulkan Ketidasiplinan Guru
Sumber Gambar : disini
 
Dikarenakan dari pengamatan saya selama ini, E-learning membuat beberapa guru malas untuk mengajar secara langsung karena telah menganggap E-learning sebagai pengganti metode pengajaran konvensional. Sehingga jumlah pertemuan antar guru dan siswa pun berkurang dan beranggapan engan memberikan bahan pengajaran dan tugas di E-learning dirasa sudah cukup. Lalu akibatnya ? siswa akan mengalami sedikit kesulitan dalam memahami pelajaran. Apalagi untuk mata pelajaran yang sifatnya eksak seperti Matematika, Fisika dan Kimia, penjelasan secara langsung mungkin hasilnya akan lebih baik diterima siswa jika diterangkan secara langsung dan E-learning menjadi alternatif media pembelajaran seperti animasi ataupun video penunjang pembelajaran. Sebagaimana yang kita ketahui kemampuan berpikir dan daya nalar tiap orang itu akan berbeda. Mungkin untuk sebagian siswa yang tergolong pintar mampu memahami pelajaran dengan hanya membaca, namun mungkin akan mengalami sedikit kesulitas bagi siswa yang tergolong biasa saja karena mereka lebih nyaman dan cepat memahami pelajaran bila diajarkan secara langsung oleh guru. Walaupun memang pada kenyataannya E-learning menyediakan ruang chat untuk berdiskusi.

Percayalah, dibalik kekurangan dari E-learning terdapat sejuta manfaat yang menutupi kekurangan itu dan tentunya akan memberikan dampak positif bagi pelaku pendidikan. Namun perlu diperhatikan bahwa E-learning bukanlah pengganti dari kegiatan belajar mengajar secara konvensional, namun sebagai media penunjang pembelajaran. Karena tatap muka langsung diperlukan bagi guru untuk mengetahui karakteristik masing-masing siswa, dan hal-hal teknis maupun non-teknis lainnya. Seyogyanya, E-learning memberikan harapan baru sebagai alternatif solusi atas sebagian besar permasalahan yang terjadi di ruang lingkup instansi pendidikan khususnya di Indonesia, dengan fungsi yang telah disesuaikan baik sebagai suplemen (tambahan) maupun komplemen (pelengkap) atas kegiatan pembelajaran kelas yang selama ini digunakan.





2 komentar:

  1. Tulisan bagus, membahas dengan sudut pandang unik.
    Mari kembangkan E-Learning

    http://www.tohib.web.id/2013/12/guru-ngeblog-itu-seksi.html

    BalasHapus
  2. Makasih bro... semoga bisa diterapkan disemua kalangan instansi pendidikan :)

    BalasHapus